MEMAKNAI PERJALANAN 2.920 HARI

“Perjalanan paling melelahkan adalah menemukan diri sendiri” ---- anonim

Oktober 2026 // Ketapang kencana di sudut lapangan sekolah seolah oasis yang menyejukkan padang pasir, mentari bersinar sangat terang dan rindu petrikor kian terasa setelah lama tanah ini tidak diguyur hujan. Oktober masih kemarau, suasana hati masih bimbang antara senang dan galau. Dua bulan menjelang akhir tahun, membuat diri banyak merefleksi bahwa setiap hal yang dilakukan ternyata baru pada tahap “sekedar”, belum sepenuhnya memiliki makna dan tidak benar-benar dimaknai.

Beberapa murid berbincang di bawah rindangnya pohon, menatap teman lainnya yang asik bermain bola di lapangan sekolah. Guru-guru dengan berbagai energi menyiram harapan di setiap ruang kelas, papan tulis selalu menjadi saksi bisu betapa setiap hari murid dijejali ilmu dan guru nyatanya selalu menjadi garda terdepan sebuah peradaban.

Tahun ke delapan pengabdian, jari jemari ini kembali memberanikan diri untuk menuliskan perjalanan, yap ternyata 2.920 (dua ribu sembilan ratus dua puluh) hari langkah ini masih berproses menemukan arti.  Terkadang perjalanan terasa membosankan, hari-hari hanya diisi dengan pengulangan aktivitas menjenuhkan. Sehingga kerap kali dalam hati bertanya, “ini arahnya kemana?”

Pertanyaan yang tidak pernah menemukan jawaban, karena katanya setiap perjalanan adalah proses dan setiap proses adalah ruang untuk belajar dan bertumbuh. Kita tidak perlu merisaukan apa yang akan terjadi ke depan, tapi rasanya manusiawi jika di beberapa waktu hati selalu menggerutu dan pikiran selalu dihantui kecemasan. Semakin hari semakin sadar bahwa cara terbaik untuk melaluinya adalah dengan menjalankan hari secara optimal, memaksimalkan ikhtiar dan meyakini bahwa apapun yang akan terjadi selalu ada kuasa Pencipta yang turut serta di dalamnya.

Setelah hari-hari berat dilalui, tarik nafas panjang dan beri ruang untuk diri tetap tenang. Lakukan hal yang paling disukai, dengarkan musik yang menenangkan, baca buku favorit, kembali membuat journal harian dan batasi perasaan untuk tidak meng-entertain rasa galau berlebihan.

Karena setiap hari kita dihadapkan kenyataan bahwa …..

Dunia lebih cepat berubah dari yang kita kira, entah memang banyak yang berubah atau memang kita yang jauh lebih mengenal dunia. Setiap hari berdamapingan dengan dunia maya, urusan kepintaran sudah jelas kita kalah dengan AI, urusan keterampilan mungkin kita kalah juga dengan mesin, tapi urusan hati --- AI dan mesin tidak akan bisa menggantikan.

Sore itu bel berbunyi pukul 15.15 sebagai tanda berakhirnya pembelajaran, selasar sekolah sudah ramai diisi murid yang bersiap melaksanakan apel. Tidak sedikit terdengar perbincangan  saling melempar keluhan-keluhan, sisanya berdiam diri menikmati rasa lelah, haus dan lapar.

“Ibu capek nya? Ku abdi dicandakeun bukuna” ujar murid dengan nada lembut menghampiri sambil menyodorkan tangan untuk memberikan tawaran.

Seketika badan terasa membeku, mencerna kalimat yang terdengar. Seharian menyerap berbagai energi, di penghujung hari kalimat sederhana tanpa penghakiman terdengar syahdu dan menyejukkan hati. Mungkin dimata banyak orang terdengar biasa saja, tetapi jika diterima ketika diri sedang lelah ternyata bahagianya luar biasa. Benar adanya bahwa proses pendidikan tidak hanya menjejali ilmu pengetahuan tapi bagaimana hati berbicara dan itu tidak kita temukan pada teknologi modern apapun. Mampu menghadirkan hati pada setiap langkah menjadi modal utama yang kita punya.

Meski judul tulisan ini sangat idealis sekali mengambil kata “memaknai”, tapi rasanya terlalu jauh untuk sampai pada “makna” ketika perjalanannya belum menemukan apa-apa. Apa-apa yang dilakukan hanya “sekedar” menjalankan tugas, “sekedar” menggugurkan kewajiban dan “sekedar” agar hari ini selesai.

Tulisan ini bukanlah sebuah pembenaran, hanya isi hati yang tertuang dan rasanya tidak ada arahnya. Ungkapan hati manusia kecil yang selalu ingin bertumbuh dan menemukan diri.

Kalau kata seseorang:

“Manusia itu ibarat ikan hiu. Ikan hiu itu insang nya baru bisa napas jika ia berenang (bergerak). Sama seperti manusia, kita akan hidup dan terus berkembang kalau kita terus bergerak. Ketika kita berhenti bergerak, berhenti belajar, berhenti improve kita akan mati.” ---

Kesimpulannya ----- Bergerak dulu saja mungkin ya, nanti kita temukan maknanya

 

Tuntas pada Rabu malam; 23.10

14 Oktober 2026

With love,

Reni Fatwa Gumilar

 

 

 

Komentar

Postingan Populer